Sakura telah terbit, langit pucat kebiruan dihiasi warna pink lembut. Siapa pun yang melihatnya akan tersentuh kedalam puncak perasaan hati yang paling dalam. Indah, mempesona, membuat suasana kalbu menjadi damai. Reyna menyusuri jalan di bawah pohon sakura yang ditanam rapi di sepanjang trotoar Tokyo. Untuk pertama kalinya dia menyentuh helaian kelopak sakura yang berjatuhan. Pertama kalinya Reyna melihat dan merasakan harum Sakura menusuri lengkuk tubuhnya. Benar apa yang dikatakan orang, Sakura adalah lambang kedamaian. Kuncup demi kuncup sakura yang mekar, sangat indah untuk dinikmati, bagaikan menanti seseorang yang sangat di sayangi untuk kembali datang. Merasakan senyuman yang terlukis dari bibirnya, menantikan sorot matanya yang penuh kelembutan dan sentuhan tangannya yang hangat. Reyna pernah berjanji, membawa seseorang bersamanya untuk makan bersama di bawah cahaya matahari yang menyelinap masuk diantara celah bunga sakura. Dengannya, Reyna ingin berbagi kisah dan canda tawa. Reyna ingat, setelah mereka berjanji untuk melakukan rencana makan bersama di bawah pohon sakura, mereka sudah menyiapkan bekal apa saja yang mereka ingin bawa, bahkan mereka sempat berselisih paham tentang warna tikar dan bekal apa yang ingin di bawa. Maklum, Reyna suka warna pink, dan dia menyukai warna biru. Reyna gemar dengan orinari, sedangkan dia menggemari beef yakiniku. Perselisihan mereka saat itu diwarnai tidak dengan emosi, namun satu sama lain saling mengejek, mengata-ngatai dan akhirnya sama-sama menertawakan.^_^ & ^_^ Reyna baru saja menapakkan kakinya di Jepang. Seorang laki-laki muda menjemputnya di bandara, sendiri. “Mr. Darman?” Katanya yang terucap untuk pertama kali, berat namun tegas. Ayah Reyna menyambutnya dengan mengangguk dan merangkul laki-laki muda itu. Dia terlihat sangat terkejut dengan pelukan ayah Reyna, badannya terkubur dalam pelukan yang kuat. “Riyo, apa kabar?” Reyna terkejut mendengar ayahnya berkata dengan bahasa indonesia. Melihat perawakan laki-laki itu dengan mata sipit dan kulitnya yang seputih kapas, Reyna berpikir bahwa dia adalah seorang japaness. Ternyata perkiraannya salah, setelah ayahnya melepaskan pelukannya yang mengikat, dia dan ayahnya terus bertegur sapa menggunakan bahasa Indonesia, tidak ada sedikitpun logat “aneh” yang didengar Reyna dari Riyo. Sama seperti anak Indonesia kebanyakannya. Ayahnya terus menanyakan kabar dari keluarga Riyo, sehingga sepertinya ayahnya hampir lupa dengan keberadaannya sampai Reyna berdeham. “Oh… ya, kenalkan Riyo, ini anak Om, namanya Reyna… Reyna, ini Riyo”. Reyna menyalami tangan Riyo, tangan yang kurus dengan jari-jari yang panjang. Tinggi Reyna sebahu dari tinggi Riyo, dia jangkung,kurus dan mukanya tirus. Rambutnya tidak lurus melainkan agak ikal. Matanya sipit dan kulitnya seputih kapas. Udara musim panas membuat pipinya kemerahan karena tersengat matahari. Riyo mengenakan celana selutut dan t-shirt Polo putih dengan tas yang diselempangkannya di bahunya. Dia tersenyum tanpa memperlihatkan giginya, namun sangat terlihat tulus dan terlihat dia seorang yang ramah. Reyna menucapkan namanya, Riyo membalas dengan mengucapkan “Konnichiwa?”. Reyna masih sangat canggung untuk mengucapkan kata-kata dalam bahasa jepang. “Dia belum fasih berbahasa Jepang” Ayah Reyna berkata pada Riyo. “Maklum, dia kesini hanya untuk liburan….bukan untuk sekolah” . Riyo mengangguk mendengar penjelasan Ayah. “ Bagaimana kalau barang-barangnya langsung saya angkat saja, Om?” Riyo sudah meraih pegangan untuk membawakan kereta dorong dengan isi barang-barang kami yang berkoper-koper. “Oke lah….” Kata Ayah, dan mereka menuju mobil yang sudah disediakan ayah Riyo untuk mereka. Malam di kota Tokyo sungguh sangat menarik, Reyna seperti berada dalam dunia Drama TV Jepang yang sering digemarinya. Gaya berpakaian khas yang sering dilihatnya dalam majalah, berlalu lalang dalam batas penglihatannya. Sungguh menarik, Reyna mengambil kamera yang telah dia siapkan di tas kecil yang sedari tadi tidak lepas darinya. Dari segala sisi,tidak dapat terhitung sudah berapa banyak photo yang telah diambilnya. Sepanjang perjalanan dilihatnya, ayahnya hanya tersenyum melihat ekspresi reyna. Riyo beberapa kali menerangkan tentang bangunan yang mereka lewati. “Ayah tadi menyuruh ku untuk membawa kalian menuju rumah dengan jalan yang melewati kota. Tidak akan ada macet seperti di Jakarta kok…”. Riyo yang duduk disebelah Reyna menatap nya dengan tersenyum. “Hm… jika di Jakarta, jam-jam segini lagi macet-macetnya Yo…” Ayah berkata tanpa melihat kearah Riyo, matanya menuju objek yang ada di sekelilingnya. Kota Tokyo malam ini, malam pertama baginya di sini, tidak akan terlupakan olehnya…malam beginya untuk belajar melupakan. Reyna berharap, liburannya kali ini tidak akan sia-sia. Tidak akan ada lagi yang menganggu pikirannya, dia harus dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah dia pulang dari liburannya. Fresh from all the stucks in her heart. Setelah melewati pemandangan kota yang sangat penuh dengan cahaya warna dengan beraneka pertunjukan adab manusia. Mereka memasuki jalan gang kecil, sunyi dan hanya terlihat sedikit orang berjalan lalu lalang. Tidak terlihat aktivitas sama sekali. Tidak ada suara dari rumah yang keluar sama sekali, padahal jarak dari satu rumah ke rumah lainnya sangat berdekatan. senyap. Reyna dan ayahnya akan tinggal sementara ini di rumah Riyo. Tempat tinggal ayah masih diperbaiki. Tidak ada kabar kapan rumah mereka akan selesai diperbaiki. Mungkin dalam tiga hari ini, seminggu atau sampai liburan Reyna berakhir. Saat Reyna terbangun, sudah terdengar suara-suara dari lantai bawah, mungkin dari dapur. Ditengoknya jam weker winnie the pooh dari sahabatnya, Puspa, yang khusus dibawanya dari rumah. Pukul 07.00, pantas sudah ramai. Reyna membereskan rambutnya dan menuju kamar mandi. Setelah aktivitas ritual diri telah selesai, dengan segera Reyna keluar dari kamar tidurnya. Kamar yang disediakan untuknya tidak bisa dibilang besar, namun rapi. Dinding dan seprainya bewarna cokelat pastel, warna kesukaannya. Tepat didepan jendela terdapat meja belajar dengan buku-buku tersusun rapi. Beberapa figura photo juga diletakkan diatasnya. Photo keluarga Riyo, Riyo dengan wanita yang sepertinya ibunya, dan photo Riyo dengan laki-laki yang entah sebaya atau berbeda umur dengannya, wajahnya tidak setirus Riyo, namun kira-kira tingginya sama dengannya, dalam figura lain juga terdapat photo laki-laki itu sendiri. Tersenyum, ganteng. Hm, Reyna tersenyum dalam dirinya sendiri, belum sehari dia telah menemukan seorang laki-laki ganteng. Berarti dimana-mana terdapat laki-laki yang menarik, ya? Di sudut kana dekat meja belajar terdapat lemari dan beberapa ornamen patung kecil di atasnya. Di sisi-sisi dinding juga terdapat beberapa figura yang berisikan piagam, berbagai macam penghargaan mungkin. Reyna malas membacanya. Suara ayahnya dan seorang laki-laki yang ditebak Reyna adalah ayah Riyo berasal dari belakang. Dapur keluarga Riyo sungguh menarik, semua furniture terbuat dari kayu, Ayahnya dan ayah Riyo duduk di meja bundar yang menyatu dengan diding pintu yang menuju ruang tengah. Dapurnya kecil namun sangat rapi dan bersih, banyak terdapat laci yang digunakan untuk menyimpan segala perabotan. Di depan meja tempat ayahnya duduk, terdapat jendela berbentuk setengah lingkaran. Cahaya yang masuk dari jendela memang menyengat, namun cahaya itu sebagai satu-satunya penerangan di dapur. Ayah menyapa Reyna “Waah.. baru bangun, cape sekali rupanya” Reyna tersenyum kepada ayahnya dan ayahn Riyo. Dia menyalimi tangan ayah Riyo dan ayah riyo mengusap-usap rambutnya. “Sudah besar kamu sekarang, dulu saat kamu masih di Kalimantan, paman ke rumahmu dan kamu masih sangat kecil”. Ayah Riyo tersenyum hangat, Reyna menangkap tatapan Riyo ternyata mirip dengan cara ayahnya menatap, sangat ramah dan nyaman walaupun matanya tidak sesipit mata Riyo. Ayah Riyo tidak gentuk namun juga tidak begitu kurus, rambutnya sudah bewarna putih, namun kulitnya bersih kecoklatan, berbeda dengan Riyo yang kulitnya putih. “ Ya, iyalah… dulu kamu kesana dia masih SD kelas..hm, empat ya? kayaknya dia juga sudah lupa” Ayah Reyna menyahut sembari menyeruput minuman dalam cangkinya. “Mari.. duduk disini Reyna” Ayah Riyo mengajaknya duduk disampingnya. “Hm, kayaknya kamu memang sudah lupa sama paman, paman pernah ke Jakarta tapi saat itu kamu tidak ada, katanya kamu ada acara…apa ya? kalau tidak salah, saat itu kamu kelas dua Sma” “ Berarti baru saja ya?” Reyna berkata sambil menatap mata ayah Riyo. “Hampir dua tahun yang lalu” Kata Ayah Reyna… Tiba-tiba saja datang seorang perempuan keibuan dari pintu belakang dapur. Dia memakai pakaian terusan dengan corak bunga-bunga berukuran besar bewarna cokelat, Reyna menebak perempuan itu kemungkinan ibunya Riyo. Dia cantik, senyumannya juga sangat teduh, mempunyai lesung pipit dan dia tinggi, kira-kira melebihi tinggi ayahnya Riyo. Kulitnya bersih dan seputih kulit Riyo, tampak sedikit pucat, rambutnya bergelombang dan matanya lebih sipit dari pada Riyo. Dia membawa banyak sekali kantong kertas yang berisi berbagai macam sayur, di tangan kanannya dia menenteng plastik kecil yang penuh. “ Huh… aku sudah mencari dari berbagai macam toko, tidak ada yang menjual eggplant, entah apa yang sedang terjadi hari ini.” Perempuan itu meletakkan belanjaannya diatas meja. “Hey, itu Reyna ya?” Perempuan itu menunjuk ke arah Reyna. Reyna mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah perempuan itu. “Ya.. saya, tante?” Perempuan itu langsung memeluknya dan mengecup keningnya. “Beautiful ! Like u’r mother” Perempuan itu berkata sembari memegangi wajah Reyna. “ ya… tapi masih ada kealah dengan ibunya” Ayah Reyna menimpali. “ Apanya? Matanya dan wajahnya telah menyamai ibunya.” Perempuan itu melepasan pelukannya dan menatap ayah Reyna. “Dia masih belum bisa masak, apalagi membuatkan sambal terasi untuk ku” Ayah Reyna mengedipkan sebelah matanya kepadanya. Reyna memajukan sedikit bibir bawahnya. “ Hm, untuk belajar masak, biar aku yang mengajarkan, dia sudah cukup dewasa sekarang” Perempuan itu mengambil cangkir dari rak yang ada di laci atas lemari dan mengisinya dengan the dari teko yang telah ada di depannya. “Ini tante miya, dia istri dan ibu dari Riyo dan Rangga” ayah Riyo memperkenalkan perempuan yang kini duduk diantara kami. Rangga? Berarti Riyo mempunyai saudara lagi, mungkin laki-laki yang dilihatnya dari photo itu?. Laki-laki yang menarik itu?. Tanpa sengaja Reyna menggigit bibir bawahnya. “Tapi Reyna belum pernah bertemu dengan Rangga, ya? Kemaren kan Riyo yang menjemput” Tante Miya meniup thenya. “ Ya.. dimana Rangga sekarang?” Ayah Reyna bertanya. “ Rangga masih berada di Inggris, sebentar lagi dia akan balik ke sini” Ayah Riyo yang menjawabnya. “ Ke inggris? Kuliah?” Ayah Reyna terkejut. “S2, tetapi sebentar lagi dia akan lulus, yah.. do’anya saja” Tante Miya menambahkan. S2? Berarti umurnya jauh diatas Reyna donk? Hm, tapi di photonya tidak kelihatan kalau dia sudah tua. “ Reyna sekarang kuliah ya?” Tante Miya bertanya sambil meminum tehnya yang sudah dingin. “ iya, tante… baru semester dua. Ini lagi liburan” Reyna menganguk lalu mengambil cangkir the nya. “ o… kata ayahmu kamu mengambil jurusan psikologi ya? Bagus itu” Ayah Riyo mengangguk-angguk sambil tersenyum. “ O ,ya… kamu belum sarapan ya? tante buatkan dulu, mau roti atau telur gulung dan sayur?” Tante Miya mulai beranjak dari duduknya. “ Ehm… roti saja tante” Reyna memang terbiasa makan roti setiap paginya. “ Oke, pakai selai atau telur? Dengan susu ya?” Tante Miya mulai mengambil roti dari lemari. “Apa aja tente..” Reyna tersenyum. Ayahnya dan ayah Riyo saling bertukar cerita, Tante Miya banyak menanyainya tentang kehidupannya dengan ayahnya. Reyna baru tahu dari cerita tante Miya, ternyata jarak antara Riyo dan Rangga lumayan jauh, sekitar lima tahun, Rangga menyelesaikan kuliah strata satunya di Universitas Tokyo, setelah itu dia langsung mengambil gelar masternya di Inggris, sedangkan Riyo ternyata masih duduk di bangku sekolah, dia baru kelas 2 SMA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar