Minggu, 20 Maret 2011

Imasugu Aitai


Imasugu Aitai, to say Suki desu) Hajimemashou 5 tahun lalu….. “Ada apa?”Kira menoleh ke arahku, se telah menghentikan langkahnya sesaat. Iaa menatap lurus ke arahku, membuatku semakin gugup Dan akhirnya aku menunduk. “Aku…..aku…” “Iya, apa?”ia semakin penasaran. “Aku….” “Ya?” “Aku suka padamu!!”ujarku. “Aku…dari dulu selalu mengagumimu!!! Maukah kau jadi pacarku?”kataku dengan suara yang cukup keras, dan aku membungkuk dengan takut. Oops! Kalimat ini kulontarkan dengan tiba-tiba, tak sengaja keluar dari mulutku, pada Kira. Dan lebih mengerikan lagi, aku menembak preman sekolah! Astaga! Apa yang kulakukan? Aku melirik sekilas, ke para siswa. Dilihat dari tatapannya, nampaknya mereka terkejut dengan pengakuanku barusan. Ya, tentu saja, mereka sepertinya mengatai aku nekad, nggak waras, dan lain-lain. Kira sepertinya terkejut dengan pengakuanku. Apa jawabannya? Aku semakin penasaran. “Yang benar saja!” DEG!! Aku mematung di tempatku berdiri.Seolah tak percaya dengan apa yang kudengar tadi. Dia menolakku? Aku shock ekali mendengar jawaban yang terlontar dari mulutnya. Dan lagi, sepertinya seluruh murid tampak menatapku dengan iba dan kasihan padaku. Yah memang harus. Dengan dingin, ia berlalu dariku, menyenggol bahuku sedikit. Ia berbisik, tapi aku nggak denger. Lalu ia pergi berlalu meninggalkan kerumunan. Ekspresinya datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku semakin kecewa. Lututku terasa lemas. Aku terduduk begitu saja di lantai koridor sekolah. Azuma sahabatku segera datang menghampiriku. “Kau kenapa, Yui?”tanyanya dengan nada yang terdengar cemas. Aku menggeleng sesenggukan, Lalu, tanpa sempat menjawab pertanyaannya, aku berlari dari tempatku tadi, meninggalkan kerumunan. Para murid sepertinya memandangku dengan pandangan heran. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari, entah kemana. Aku mengikuti langkah kakiku. Yang akhirnya membawaku ke taman belakang sekolah. Air mataku mau merembes keluar, tapi aku tahan sekuat tenaga. Aku menatap pemandangan alam dari taman belakang sekolahku ini. Meski terlihat kabur karena tertutup oleh air mataku. Tampak indah, suasananya juga tenang, karena cuma ada aku saja. Aku memilih sebuah pohon yang rindang tidak jauh dariku. Aku berteduh dibawahnya. Udaranya sangat dingin. Taman sekolah yang aneh. Karena,meski cuaca apapun, udara disini tetap dingin. Sungguh aneh bukan? Di sini, di taman sekolahku, memang tidak disediakan bangku taman. Akan tetapi, para siswa masih diperbolehkan untuk sekadar duduk di bawah pepohonan-pepohonan yang rindang ini. Asalkan tidak mengotori saja. Taman ini, taman belakang sekolah, sebenarnya cukup bagus. Akh, bukan cukup, Yui. Tapi sangat-sangatlah bagus. Di sini, walaupun musim apapun, tetap akan terasa seperti musim semi. Aneh, khan? Aku juga merasa begitu, kok! Dan satu lagi keistimewaan dari taman belakang sekolah ini. Disini, hanya para murid sekolahku saja yang boleh masuk ke taman ini, tidak untuk umum. Jadi, bisa dibilang, hanya murid-murid sekolahku saja yang tahu tentang indahnya taman ini. Yah, betapa beruntungnya aku bisa masuk ke sekolah ini! Aku menoleh ke sebelah kananku. Tampak sebuah pohon yang sangat unik. Daunnya berwarna agak keemasan kalau terkena sinar matahari. Disitulah tempat pertama kalinya aku bertemu dengan Kira, tuan muda di sekolah yang juga terkenal sebagai orang nomor satu dalam daftar preman yang paling ditakuti tapi cool. Yah, para cewek semua pada mengaguminya. Termasuk aku. Banyak cewek yang ditolaknya. Aku juga termasuk. Hiks! Mengingat saja sudah membuatku semakin ingin menangis. Air mata ini, aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Kubiarkan air mata ini keluar dengan sendirinya, sampai berhenti dan aku puas.Aku duduk, memeluk lututku, dan kusembunyikan wajahku yang basah karena air mata ini. Hiks! Hiks! Aku cengeng banget sih! Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri, agar tidak menangis. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah begini. Pasti wajahku saat ini jelek banget. “Hei…” Seseorang memanggilku. Aku mendongak ke orang itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena tertutup oleh tudung jaketnya. “Nih, pakailah.”ia menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna padaku. EKH! KOK SAMA KAYAK WAKTU ITU,YA!? Aku terdiam, tapi aku mengambilnya. Aku segera memakai sapu tangan itu untuk menyeka air mataku. Kami saling diam. Akhirnya, air mata ini berhenti, dan aku pun lega, karena sepertinya rasa sakit ini seolah benar-benar hilang, walau tidak sepenuhnya. “Sudah lega?”tanyanya. “Begitulah…”jawabku singkat. Aku tidak perduli padanya, dan aku lebih mementingkan sakit hatiku ini. Aku meliriknya sedikit. Wajahnya,aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena tertutup oleh jaketnya yang berwarna hijau tua. Aku sebenarnya penasaran, siapa orang ini. Tapi kalau kutebak, dia pasti siswa dari SD Seirei ini. Yap, pasti. “Sedang apa kau disini?”tanyanya agak heran.

1 komentar: